[Resensi Buku] Palagan Nusantara

Overview

Judul: Palagan Nusantara
Penulis: Nellaneva
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978 6020 490427
Genre: Sci-fi

Tidak ada yang tahu alasan kedua orangtua Kat ditembak mati pada Minggu pagi itu. Kat pun dibuat tak berdaya oleh si penembak sebelum adiknya, Aruni, dibawa pergi.

Kat yakin adiknya tidak ikut dibunuh. Setelah keluar dari rumah sakit, ia mencari adiknya dengan bantuan Garda, robot kucing yang serbatahu; Baskara, si ahli mekanik; dan Mada, si penyandang lengan robotik.

Lanjutkan membaca “[Resensi Buku] Palagan Nusantara”

[Resensi Buku] Heart of Darkness

Aku menemukan buku ini ketika sedang mempelajari arketipe-arketipe tokoh utama dalam cerita. Arketipenya didasarkan pada dewa-dewa dalam mitologi Yunani, dan yang paling kusukai adalah Hades. Hades digambarkan sebagai orang yang berpemikiran dalam, kadang-kadang genius, lack of physical strength, dan sangat senang menyendiri.

Dalam trait negatif, ia akan menjadi si antisosial yang menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain. Pada buku teks yang kupelajari itu, disebutkan contoh karakter dalam literatur yang memiliki arketipe Hades ini adalah dr. Jekyll/ Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson, serta Kurtz, tokoh antagonis dalam novel Heart of Darkness ini.

Oke, setelah menjelaskan juntrunganku membaca novel ini, sekarang aku akan membahas isi ceritanya.

Lanjutkan membaca “[Resensi Buku] Heart of Darkness”

My Social Media Problem

Sejak akhir tahun lalu, aku memutuskan untuk mencopot aplikasi Instagram dari ponselku.

Entah apakah ini akan berlaku selamanya atau hanya sampai aku kembali siap, aku tidak tahu. Aku anaknya impulsif dan labil. Kalau kata orang Jawa itu, isuk tempe sore dele. Aku bisa menarik ucapan monumentalku hanya beberapa menit kemudian karena aku sering memutuskan sesuatu ketika sedang marah. Dan marahku nggak pernah lama.

Lanjutkan membaca “My Social Media Problem”

My 2018 Reading List

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Tahun ini aku menetapkan 40 buku untuk dibaca dalam Goodreads Reading Challenge. Thanks to iPusnas yang sudah membantuku berhemat tapi tetap bisa memenuhi tantangan GRC. Seperti tahun lalu, tahun ini pun aku nggak punya kriteria khusus untuk bacaanku, nggak menargetkan judul atau karya penulis tertentu untuk dibaca. Pokoknya buku apa aja yang ada di dekatku dan bisa kutamatkan, itulah yang masuk ke daftar ini. Maafkan postingan yang panjang.

  1. Puisi

Tahun ini aku mencoba membaca buku kumpulan puisi sastrawan tersohor Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Buku yang kupilih adalah “Kolam”, alih-alih “Hujan Bulan Juni” yang lebih booming akhir-akhir ini. Hasilnya, wah… aku betah banget. Apa ya? Pemilihan katanya dan imajinasi yang terbentuk itu empuk sekali, padahal kebanyakan puisi di sini membahas lingkungan sekitar yang sangat familier dan cenderung terabaikan. Sulit memutuskan puisi mana yang paling kusukai, yang jelas aku suka ini:

Ia suka membayangkan dirinya duduk

I know, sekilas tampaknya nggak ada yang istimewa dari larik itu, kan? Tapi setiap orang punya interpretasi pribadi terhadap karya-karya seni, termasuk puisi, so don’t blame it on me. You got it, buddy? (Don’t you notice the rhyme? Hahaha.)

  1. Award Winning

Setelah tahun lalu jatuh cinta sama buku pemenang lomba menulis DKJ 2016, “Semua Ikan di Langit”, tahun ini aku menambah pengalaman dengan membaca buku-buku pemenang—dan runner-up—penghargaan bergengsi lainnya.

Lanjutkan membaca “My 2018 Reading List”

Enigma Pasha: Behind the Scene

Hei, hei!

Masih ingat petualangan monyet ini mengikuti Expert Writing Class GWP batch 3 tahun lalu? Novel ini, bisa dibilang, merupakan hasil dari acara itu.

Aku mendaftarkan diri untuk lomba menulis teenlit dan young adult Gramedia Writing Project pada Maret 2017, dengan niat iseng dan belum punya pengalaman nulis apa-apa. A.k.a nekat saja. Bahkan aku belum tahu mau menulis apa sampai dihadapkan pada formulir keikutsertaan lomba. Mau nggak mau aku harus memutuskan cerita siapa yang akan kuangkat dalam lomba ini. Masalahnya, aku punya banyak tokoh khayalan, tapi cerita mereka sebagian besarnya belum dikodifikasi dengan baik. Entah mengapa aku menunjuk Pasha. Mungkin karena dari sekian banyak draf ceritaku, yang genrenya bisa ‘dipaksa’ jadi teenlit/young adult ya cerita Pasha ini. Lanjutkan membaca “Enigma Pasha: Behind the Scene”