Naskah Drama 3 Orang

Pemuda           : Permisi, mbak, numpang tanya, jalan ke hutan rimba ke arah mana, ya?

Meranti            : Siapa kamu?

Pemuda           : Ng…saya…(sibuk mencari kartu nama di seluruh kantong rompi dan celana gantungnya) Saya Damar. Saya ini mahasiswa kehutanan yang ingin me…

Meranti            : Mahasiswa kehutanan? Berarti kamu tahu dong, ini bunga apa? (menunjukkan bunga aneh itu pada Damar)

Damar             : (mengamati bunga itu di tangannya) waah…unik, aku belum pernah lihat. Kalau kubawa ini ke pusat pencatatan spesies yang hidup di seluruh dunia, aku bisa terkenal (melonjak gembira)

Meranti            : Hei! Yang menemukannya kan aku! Enak aja kamu main rebut.

Damar             : Hei, kamu kan wong deso!

Meranti            : Mau kupanggil semua penduduk biar kamu dihajar sampai tinggal tulang belulang? (bernada mengancam)

Damar             : Eh, ampun, ampun…(merunduk memohon ampun pada Meranti) aku kemari untuk mempelajari tentang ciri-ciri hutan yang belum terjamah manusia, bukan mau jadi perkedel. Oke deh, kita damai, aku nggak bakal ngejek kamu lagi.

Meranti            : (melipat tangan dengan sumringah) Bagus. Kamu itu bertamu ke kampung orang, harus baik-baik perangainya, oke? Nah, terus, sekarang apa?

Damar             : tunjukkan aku ke arah mana hutan rimba itu. Dan sebagai gantinya, kalau karya ilmiahku diterima, aku janji akan mengangkat nama kampung ini.

Meranti            : itu nggak menguntungkan bagiku.

Damar             : jadi?

Meranti            : aku ingin tahu ini jenis apa, aku ingin membudidayakannya dan menjadikan daerah ini sebagai daerah endemik tanaman ini. Aku ingin membuktikan pada ibuku bahwa ilmu yang kudapat dari sekolah bisa berguna (semangat dan emosi berapi-api)

Damar             : (ternganga melihat kobaran semangat Meranti) oke, boleh juga. Jadi, kamu antar aku ke hutan rimba itu, dan aku akan mempelajari tanaman ini. deal?

Meranti            : apaan tuh ‘deal’?

Damar             : (pingsan)

Setelah itu mereka pun berangkat menuju hutan yang biasa dijelajahi Meranti setiap paginya. Di sepanjang jalan, Meranti bercerita tentang hutan itu,

Meranti            : Penduduk kampung ini sangat menjaga kelestarian hutan dan tidak membiarkan orang asing masuk untuk merusaknya. Sudah banyak orang luar mencoba menjelajahi hutan ini, tapi mereka terusir, ada yang dibunuh warga karena tidak mengindahkan peraturan. Sebaiknya kamu tidak usah muncul di tengah-tengah warga, karena mereka akan membunuhmu karena dianggap penjajah yang mau merusak hutan.

Damar             : Serem juga. Baiklah, aku akan buat tenda di hutan ini saja.

Meranti            : tendamu pun harus disamarkan karena banyak warga yang mencari bahan makanan di hutan ini saat pagi.

Damar             : oke, terima kasih banyak informasinya.

Meranti            : kalau gitu, aku pulang dulu, aku harus membantu ibuku. (balik kanan)

Damar             : tunggu…

Meranti            : (berhenti berjalan, kembali menghadap Damar) ada apa lagi?

Damar             : Aku belum tahu namamu….

Meranti            : Me-ran-ti… (langsung pergi)

Damar             : Meranti? (mulai muncul rasa kagum, terlihat jelas dari tatapan matanya)

 

II

Malam telah menjelang. Suara serangga dan kegelapan malam membalut hutan. Di dalam tendanya, Damar sedang menelepon seseorang,

Damar             : Bos, saya berhasil memasuki hutan Kampung Ijo (memainkan senapan laras panjang) Ada beberapa jenis pohon yang kayunya bernilai jual sangat tinggi. Kata penduduk, intinya kita tidak boleh menunjukkan kehadiran kita di kampung ini. Kirim saja mesin penebang pohon ke sini, kita kerja diam-diam. Kalau ketahuan kita langsung dikesot, bos. Oke, sip. Eh, aku minta bawakan mawar, ya? Ada deeh…
(tersenyu sendiri, menutup telepon, lalu duduk memandangi bunga spesies baru itu)

 

III

Damar baru keluar dari tendanya setelah bangun tidur, saat Meranti datang membawakan makanan.

Damar             : waah…jadi repot…

Meranti            : nggak apa-apa, biar kamu tambah semangat menyelidiki tanaman itu. Ada penemuan apa pada tanaman itu?

Damar             : (sambil berpikir) hmm…dari bentuk bunganya, dia pasti tumbuhan monokotil. Di mana sih kamu menemukan bunga ini?

Meranti            : Ra-ha-si-a. Nanti kalau kukasih tahu, kamu bakal mencuri semua bunga itu untuk keuntunganmu sendiri, ya kan? Hei, tendamu mirip tenda tentara!  Aku kangen berkemah, terakhir kali aku ikut perkemahan pramuka waktu kelas 2 SMP (sambil mendekati dan hampir membuka tenda Damar)

Damar             : (segera menutup pintu masuk tenda dengan badannya) hei, jangan sembarangan masuk ke tenda orang, kan aku malu, tendaku berantakan.

Meranti            : ooh…ya udah deh, nanti aku datang lagi, aku mau cari kayu bakar dulu…

Damar             : mau kubantu?

Mereka berkeliling hutan untuk mencari ranting-ranting di tanah. Tapi betapa terkejutnya Meranti melihat beberapa pohon tertebang dan yang tersisa hanya ranting-ranting kecil dan daun-daunnya.

Meranti              : Masya Allah…(berjalan lebih dekat, lalu berjongkok dan meraih sehelai daun dari pohon yang telah tertebang)

Damar               : (berdiri di dekat Meranti sambil melipat tangan, pura-pura kebingungan.)

Meranti              : (bangkit dengan kemarahan) siapa yang tega berbuat begini terhadap hutan kita?

Damar               : Ini tidak bisa dibiarkan. Siapa yang melakukannya?

Meranti              : (merenggut baju Damar dan menatapnya tajam) cuma ada kau di tengah hutan ini, kan? Kau pasti tahu sesuatu. Atau malah kau yang melakukan ini!

Damar               : Hei…mikir dong yang wajar. Pohon-pohon di sini besar-besar sekali, kalaupun aku yang melakukannya, kusembunyikan di mana kayu-kayunya?

Meranti              : Aku tahu, tendamu (buru-buru kembali ke tenda Damar)

Damar               : Meranti, tunggu! (berusaha mencegah Meranti)

Meranti mencapai tenda Damar dan membukanya. Tidak ada apa-apa selain ruang dalam tenda itu yang sangat berantakan.

Damar               : Tuh, kan, kubilang apa, aku malu tendaku berantakan.

Meranti              : Sekarang kutanya sekali lagi, kamu nggak dengar suara bising-bising orang nebang pohon tadi malam? (menginterogasi)

Damar               : (menggeleng dengan ragu, setengah takut)

Meranti              : Berani sumpah?

(sayup-sayup mendengar suara Ibu memanggil Meranti)

Damar               : (mengalihkan perhatian) Tuh, kayaknya ada yang manggil kamu.

Meranti              : (berderap kesal dan bergegas pergi) Awasi jika ada yang mencurigakan, oke?

Damar               : Oke! (setelah Meranti pergi, ia berpaling pada tendanya dan menyingkap pintu masuk tendanya yang terselip senapan laras panjang di belakangnya, ia menghela napas lega karena Meranti tidak melihat senapan itu)

Iklan

4 tanggapan untuk “Naskah Drama 3 Orang

  1. “Guruku sendiri punya banyak tuntutan yang harus kupenuhi dalam naskah drama itu”
    hay.. hay… gak sampe d tuntutkan??? haahaa
    “Kedua, harus ber’cita rasa tinggi’. Tadinya aku bingung dengan istilah guruku itu. Beliau memang berjiwa seni tinggi” hohohoooo L>E>B>A>Y
    “Oke, kucoba buat naskah sesuai permintaan guruku. Tapi setelah naskah selesai guruku memberitahuku tentang perubahan tema dan jumlah pemain, yang tentu saja membuatku patah semangat. Jadinya, naskah yang sudah susah-susah kubuat ini nggak berguna buat sekolahku T_T.”—-> tdk ada yg sia-sia, smuanya akan sangat berarti, thanks dah memenuhi tuntutan, thanks dah berusaha sebaik mungkin, seorang anggita “tiwi”juno” rintiwi akan slalu d kenang atas segla jasa2-a slama ini,, hanya penghargaan kemaren yg bsa saya bantu usahakan u/ mu, smoa bermamfaat nantinya,, 🙂

  2. Kak ijin ya, naskah drama yang kakak buat ini ingin kelas kami tampilkan dengan sedikit perubahan untuk penilaian akhir tahun. Makasih kak. Semangat terus untuk berkarya kak!

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s