Naskah Drama 3 Orang

IV

Meranti menghampiri ibunya yang berdiri bertolak pinggang di depan jalan masuk ke hutan.

Ibu                     : Kenapa kamu lama sekali? (bernada ketus)

Meranti              : Ngg… (mencari-cari alasan)

Ibu                     : Sekarang kamu bertambah lamban (berbalik kanan dan berjalan menuju rumah)
Seharusnya perempuan seusia kamu itu sudah kawin. Ibu saja menikah waktu umur ibu lebih muda 2 tahun dari usiamu sekarang.

Meranti              : Tapi ayah kabur, kan? Itu karena usia kalian saat menikah masih sangat muda…

Ibu                     : Kamu mau menasehati ibu? Kamu menyalahkan kenapa ibu kawin muda?

Meranti              : Tidak, ibu. Aku hanya…

Ibu                     : Jangan sampai keluar sumpah tidak baik dariku, ya? Teruslah melawanku! (membentak dengan kejam)

Meranti              : (berhenti berjalan dan merundukkan kepalanya)

Ibu                     : Cepat bawa ranting-ranting itu ke dapur! Ligatlah sedikit! (pulang duluan)

Meranti              : (masih berdiri di tempatnya, tertegun)

Damar sedang duduk di depan tenda sambil memoles senapannya saat Meranti mendatanginya. Damar buru-buru menyembunyikan senapan itu dan menyapa Meranti.

Damar               : Hai, kamu datang lagi…(menggeser posisi duduknya sehingga memberi tempat untuk Meranti duduk)

Meranti              : (mengembangkan senyumnya lalu duduk di samping Damar, lalu mendesah) gimana, ada perkembangan dari penelitianmu?

Damar               : ngg…kurasa dia tipe tanaman yang tahan lama, soalnya, sudah selama ini nggak diberi air, bunganya belum layu (menunjukkan bunga spesies baru itu)

Meranti              : Bunga yang kuat meskipun terpisah dari induknya, ya? (mendesah lagi)

Damar               : Ya, kurasa begitu. (mengamati keanehan sikap Meranti) Kamu kenapa? Ada masalah?

Meranti              : Ah, nggak, hanya saja aku…rasanya aneh deh, bertengkar dengan ibu cuma karena aku terlambat pulang dari hutan.

Damar               : Seberapa sering bertengkar dengannya?

Meranti              : Terlalu sering. Dia membenciku semenjak aku sekolah dan dia tidak mengizinkan. Aku terus mencari cara untuk membuka pikirannya, tapi…

Damar               : Dia terlalu konservatif. (menatap Meranti)

Meranti              : (menoleh pelan pada Damar yang menatapnya)

Damar               : Kalau kamu terkekang oleh keluargamu sementara kamu ingin melangkah maju, apa salahnya pergi ke kota? Di sana matamu akan terbuka…

Meranti              : Ya…sebenarnya aku ingin pergi tapi…aku tidak bisa meninggalkan tempat ini. Aku ingin ikut serta menjaga hutan ini. Aku bersumpah, siapapun yang sudah menebang pohon-pohon itu…tak akan kuberi ampun!

Damar               : (menelan ludah karena ngeri) siapapun?

Meranti              : siapapun!

(hening sejenak, suara serangga terdengar jelas)

Damar               : (mengalihkan pembicaraan) Kamu sadar nggak, kita punya persamaan, loh.

Meranti              : apa itu?

Damar               : Kita sama-sama spesies langka! Kamu Meranti, aku Damar, ya kan?

Meranti              : (senyumnya kembali mengembang) benar juga…

Damar               : mungkin itu artinya, kita jodoh… (memberikan sekuntum mawar pada Meranti)

Meranti              : (menerima bunga itu dengan senang hati, lalu menghirup wanginya)

V

Meranti pulang pada saat hari sudah beranjak gelap.

Ibu                     : Dari mana aja kamu!

Meranti              : (menyembunyikan mawar itu di balik punggungnya)  Maaf, bu, aku….

Ibu                     : Ibu baru dengar dari penduduk kampung, mereka menemukan beberapa pohon ditebang dan badan harimau yang sudah dikuliti di dalam hutan sana.

Meranti              : (terbelalak tak percaya mendengar pernyataan kedua ibunya) Be-benarkah?

Ibu                     : Lho? Kamu nggak tahu? terus kamu kemana aja sampai magrib begini?

Meranti              : Aku main ke….

Ibu                     : Main? Kamu main di saat hutan kita dalam bahaya! Ada penyusup di sini, tau!

Meranti              : Ibu mau menuduh siapa? (sok tidak tahu, padahal dia tegang)

Ibu                     : Tingkahmu mencurigakan sejak kemarin. Coba ceritakan, kemana saja kau pergi?

Meranti              : Ibu menuduhku telah mengkhianati peraturan kampung? Yang benar saja! (langsung masuk ke kamarnya dengan membanting pintu)

Ibu                     : Meranti! Ibu bicara padamu! Dasar anak tidak tahu tata krama!

Meranti membuka jendela kamarnya dan menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Damar datang mengendap-endap menuju jendela kamar Meranti, menyapanya dengan lirih dan melambaikan tangannya.

Meranti              : Damar?

Damar               : Shhh…jangan berisik (berbisik)

Meranti              : Mau ngapain kamu malam-malam begini?

Damar               : Aku mau ngapel, boleh, kan? Daripada diapeli jin penunggu hutan, hayo, mendingan aku ngapelin kamu, kan? (masih lirih)

Sang Ibu mendengar suara aneh dari kamar anaknya, ia pun memanggil anaknya.

Meranti              : (tercekat) itu ibu, cepat pergi, pergi! (buru-buru menutup jendelanya)

Damar               : (berlari menjauh, namun sialnya saat ia hendak pergi, ia memecahkan sebuah pot tanaman di teras rumah Meranti)

Ibu                     : Suara apa itu? (berjalan keluar rumah, tidak menemukan siapapun, tapi mendapati satu pot pecah) Meranti!!!!

Meranti              : (tergopoh-gopoh keluar) Ya, bu?

Ibu                     : Ada yang mau merampok rumah kita.

Meranti              : Merampok? Mustahil.

Ibu                     : (menunjukkan pecahan pot)

Meranti              : (terdiam dan tidak bereaksi apa-apa)

Ibu                     : Aku tahu ada sesuatu di hutan itu, ada penyusup yang bersembunyi di hutan dan menghancurkannya dari dalam (mengambil senter lalu pergi ke arah hutan)

Meranti              : (berusaha mencegah ibunya) Ibu, apa yang ibu lakukan? Malam-malam begini hutan sangat berbahaya untuk dimasuki.

Ibu                     : Jangan mencegahku! (menyingkirkan tangan anaknya)

Di tempat tersembunyi, Damar menyaksikan pertengkaran ibu dan anak itu.

Meranti              : (berpikir keras, tetap menyembunyikan Damar atau membuat ibunya percaya bahwa ia tak bersalah) Ibu, percayalah, tidak ada apa-apa di hutan itu. Aku bisa jamin. Sekarang ibu kembalilah ke rumah.

Ibu                     : Ada apa denganmu? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku! Inilah akibat dari pergaulan sekolah yang mendidikmu menjadi perusak yang pengecut! (hendak memukul wajah Meranti)

Damar keluar dari persembunyiannya dan menyambar tangan sang Ibu. Meranti terkejut dengan kehadiran Damar.

Damar               : Kalau ibu ingin menyakiti dia, lebih baik jangan….

Ibu                     : Siapa kamu!

Iklan

4 tanggapan untuk “Naskah Drama 3 Orang

  1. “Guruku sendiri punya banyak tuntutan yang harus kupenuhi dalam naskah drama itu”
    hay.. hay… gak sampe d tuntutkan??? haahaa
    “Kedua, harus ber’cita rasa tinggi’. Tadinya aku bingung dengan istilah guruku itu. Beliau memang berjiwa seni tinggi” hohohoooo L>E>B>A>Y
    “Oke, kucoba buat naskah sesuai permintaan guruku. Tapi setelah naskah selesai guruku memberitahuku tentang perubahan tema dan jumlah pemain, yang tentu saja membuatku patah semangat. Jadinya, naskah yang sudah susah-susah kubuat ini nggak berguna buat sekolahku T_T.”—-> tdk ada yg sia-sia, smuanya akan sangat berarti, thanks dah memenuhi tuntutan, thanks dah berusaha sebaik mungkin, seorang anggita “tiwi”juno” rintiwi akan slalu d kenang atas segla jasa2-a slama ini,, hanya penghargaan kemaren yg bsa saya bantu usahakan u/ mu, smoa bermamfaat nantinya,, 🙂

  2. Kak ijin ya, naskah drama yang kakak buat ini ingin kelas kami tampilkan dengan sedikit perubahan untuk penilaian akhir tahun. Makasih kak. Semangat terus untuk berkarya kak!

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s