Enigma Pasha: Behind the Scene

Hei, hei!

Masih ingat petualangan monyet ini mengikuti Expert Writing Class GWP batch 3 tahun lalu? Novel ini, bisa dibilang, merupakan hasil dari acara itu.

Aku mendaftarkan diri untuk lomba menulis teenlit dan young adult Gramedia Writing Project pada Maret 2017, dengan niat iseng dan belum punya pengalaman nulis apa-apa. A.k.a nekat saja. Bahkan aku belum tahu mau menulis apa sampai dihadapkan pada formulir keikutsertaan lomba. Mau nggak mau aku harus memutuskan cerita siapa yang akan kuangkat dalam lomba ini. Masalahnya, aku punya banyak tokoh khayalan, tapi cerita mereka sebagian besarnya belum dikodifikasi dengan baik. Entah mengapa aku menunjuk Pasha. Mungkin karena dari sekian banyak draf ceritaku, yang genrenya bisa ‘dipaksa’ jadi teenlit/young adult ya cerita Pasha ini.

Aku nggak pinter bikin judul yang bagus, dan judul yang kupakai untuk ikut lomba ini termasuk asal-asalan. Kan niat awalnya iseng. Aku hanya berpikir nanti juga nggak akan terpilih. Sementara itu, setelah mengirim formulir, kita tidak bisa mundur lagi. Judul sudah nggak boleh diganti, identitas kita sudah tercatat sebagai peserta lomba, walhasil yang bisa kulakukan sekarang hanya menulis sepuluh bab pertama yang bisa memikat juri.

Aku berhasil melewati seleksi awal.

Sejak saat itu, aku dikejar deadline untuk menyelesaikan naskah novel ini, atau upayaku dari awal akan sia-sia. Aku sudah bikin repot temanku untuk mencarikan dua novel teenlit/young adult sebagai syarat pendaftaran GWP, aku sudah mengekspos wajah KTP-ku yang memalukan pada dunia, dan aku tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan tiket Expert Writing Class yang langka itu.

Maka, siang-malam kuhabiskan di depan laptop untuk menulis kelanjutan cerita si Pasha. Aku jadi pecandu kopi temporer dan temperamenku naik ke level T-Rex. A.ka. senggol-terkam. Aku sudah menulis kerangka ceritanya sejak awal, but still there were countless versions of each chapter ended up in recycle bin.

Bercanda ding. Versi-versi tak terpakai itu kusimpan di folder “Dibuang Sayang”. Kalau dibaca sekarang, bawaannya mau terjun dari puncak Everest.

Naskah ini akhirnya memang tidak menang, tapi ada angin segar setelah pengumuman pemenang GWP bahwa para juri akan memilih beberapa naskah yang potensial untuk diterbitkan. Di situ aku merasa punya harapan. Berharap aja nggak salah, kan?

Katanya, peserta-peserta yang naskahnya terpilih akan dihubungi lewat e-mail seminggu lagi. Hanya dalam waktu seminggu itu saja. Jadi aku deg-degan ketika pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, inbox-ku tetap kosong. Bercanda lagi, yang benar inbox-ku tidak pernah kosong. Notifikasi dari Facebook yang berkata bahwa temannya temanku baru update status membanjirinya setiap saat. Baru pada hari Kamis aku mendapatkannya. Surat cinta dari editor!

Tebak apa isi surat cinta itu. Catatan revisi! Yay!

Gile, catatan revisiku sebenarnya sedikit, tapi artinya aku harus menulis ulang 2/3 bagian cerita. Ha ha ha. Ya wajar saja, karena arc ketiga sebuah cerita itu dibangun di atas arc kedua. Kalau arc kedua kacau, kacau pula ending-nya. Begitulah pemahamanku. Iya, ujung-ujungnya aku juga bongkar arc pertama yang artinya aku tulis  ulang 100%. Tralalala.

20181112_072107
Kira-kira begini catatan revisiku. Iya tahu kok tulisanku kayak cakar ayam.

Tapi kalian nggak perlu tahulah drama 3 season di balik itu, yang penting ketika kukirim hasil revisiannya, itu sudah jauuuh lebih baik dari naskah pertama yang kuselesaikan secara terbirit-birit.

Terus…

Aku kira akan mendapatkan respons dalam tiga bulan.

Lalu tahun berganti.

Naskah-naskah beruntung lainnya sudah diterbitkan.

Dan waktu terus berlalu…

Hingga hampir setahun dan tetap saja tidak ada kabar.

Aku sempat memutuskan untuk melupakannya saja, setelah mengingat motivasiku dulu untuk mengikuti lomba ini. Kan cuma iseng-iseng berhadiah. Yep, I’m gonna moving on. Lagian, kalau melihat tipikal teman-temanku di grup GWP batch 3, aku langsung tahu diri kalau aku nggak punya tampang buat jadi penulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor.

Tapi sebelum mundur total, aku memberanikan diri menghubungi sang editor lewat DM Instagram untuk menanyakan nasib naskahku. Kalau memang naskahku nggak layak terbit, sini biar kutarik. Biar kuedit lagi dan mencoba peruntungan untuk diterbitkan di tempat lain.

Eh, siapa sangka sang editor malah ngasih nomor kontak WhatsApp-nya ke aku? Dan itu terjadi pada Juli 2018, setahun setelah naskahku dikirimi surat cinta. Ternyata selama ini naskahku nyelip entah di mana, dan kalau bukan berkat Kak Vie Asano yang main ke kantor Bu Editor untuk membahas naskahnya juga, mungkin naskahku sudah terlupakan selamanya. Jadi selain kerja keras, keberuntunganku juga bermain peran di sini. Haha.

Setelah itu, naskahku pun hidup bahagia selamanya.

Nggak, nggak gitu. Aku kembali harus berkutat dengan revisi dan perbaikan di sana-sini (oke, sebenarnya nggak banyak, karena editorku pun bilang naskahku sudah lumayan). Aku harus mempersiapkan ini-itu, dan di saat yang sama, aku harus segera menghadapi persalinan. Proses pemulihan setelah operasi yang lama (aku manja sih), jeratan baby blues, dan efek begadang selama 40 hari pertama bikin aku jadi linglung sampai nggak paham instruksi dari editor. Aku telat memposting promosi di medsosku, aku juga lalai memesan buku untuk pre-order plus TTD. Akibatnya, aku dimarahi teman-teman yang sudah kebelet minta tanda tanganku.

Yah, apa boleh buat. Segala sesuatunya memang tidak bisa semulus yang diharapkan. Yang jelas, sekarang, dengan bangga aku mengumumkan, Enigma Pasha sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat! Selamat membaca! Selamat bersenang-senang dengan Pasha dan teman-temannya!

20181105_105403

Iklan

6 tanggapan untuk “Enigma Pasha: Behind the Scene

  1. Ya ampun, behind the scane-nya aja udah menarik 🤣. Tahu nggak kak, dibanding pemenang2 GWP kemarin (yg udah jadi buku), Enigma Pasha malah langsung jd wishlist sejak baca blurnya. Doakan semoga segera ada rezeki buat bawa pulang buku ini 😉.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s