My 2018 Reading List

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Tahun ini aku menetapkan 40 buku untuk dibaca dalam Goodreads Reading Challenge. Thanks to iPusnas yang sudah membantuku berhemat tapi tetap bisa memenuhi tantangan GRC. Seperti tahun lalu, tahun ini pun aku nggak punya kriteria khusus untuk bacaanku, nggak menargetkan judul atau karya penulis tertentu untuk dibaca. Pokoknya buku apa aja yang ada di dekatku dan bisa kutamatkan, itulah yang masuk ke daftar ini. Maafkan postingan yang panjang.

  1. Puisi

Tahun ini aku mencoba membaca buku kumpulan puisi sastrawan tersohor Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Buku yang kupilih adalah “Kolam”, alih-alih “Hujan Bulan Juni” yang lebih booming akhir-akhir ini. Hasilnya, wah… aku betah banget. Apa ya? Pemilihan katanya dan imajinasi yang terbentuk itu empuk sekali, padahal kebanyakan puisi di sini membahas lingkungan sekitar yang sangat familier dan cenderung terabaikan. Sulit memutuskan puisi mana yang paling kusukai, yang jelas aku suka ini:

Ia suka membayangkan dirinya duduk

I know, sekilas tampaknya nggak ada yang istimewa dari larik itu, kan? Tapi setiap orang punya interpretasi pribadi terhadap karya-karya seni, termasuk puisi, so don’t blame it on me. You got it, buddy? (Don’t you notice the rhyme? Hahaha.)

  1. Award Winning

Setelah tahun lalu jatuh cinta sama buku pemenang lomba menulis DKJ 2016, “Semua Ikan di Langit”, tahun ini aku menambah pengalaman dengan membaca buku-buku pemenang—dan runner-up—penghargaan bergengsi lainnya.

Ada “Di Tanah Lada” karya Mbak Ziggy Bernamaeksotis yang sukses bikinku banjir air mata; “Semusim, dan Semusim lagi” karya Andina Dwifatma yang bikinku ikutan sinting karena percaya sama si ikan mas koki; lalu ada “Curriculum Vitae” karya Benny Arnas yang aku sampai hari ini belum ngerti maksud ceritanya gimana 😂; terus “Rainbirds” yang rasanya udah heboh dari tahun lalu dan aku baru kesampaian baca menjelang akhir tahun ini dan nyesel kenapa nggak baca waktu masih anget; dan terakhir, “Buku Panduan Matematika Terapan” yang kontroversial antara novel atau buku teks sekolah 😅

  1. Fiksi

Fiksi di sini maksudnya buku-buku yang aku bingung menggolongkannya ke mana, tapi kalau di Indonesia masuk kategori sastra berat. Yang pertama adalah “Burial Rites” karya Hannah Kent, sebuah fiksi sejarah yang terinspirasi dari kisah nyata Agnes Magnúsdóttir, terdakwa hukum pancung terakhir di Islandia. Kusenang bisa menyelami kehidupan orang Islandia pada abad 19, dengan denah rumah aneh mereka dan mayat yang disimpan di gudang makanan pada musim dingin untuk dikuburkan pada musim semi. Hiii…

“L’Etranger”, “The Stranger”, atau “Orang Asing” karangan Albert Camus adalah fiksi lawas yang kuberanikan baca berikutnya. Bercerita tentang pria yang santai saja ketika ibunya wafat dan menghadapi penghukumannya setelah menembak mati seseorang tanpa beban. Aku nggak akan bahas dari sisi filosofisnya karena memang nggak ngertiii….

Setelahnya ada “Human Acts”, yang dialihbahasakan menjadi “Mata Malam”, karya Han Kang yang nggak segila The Vegetarian tapi tetap kelam dan berdarah-darah. Aku bahkan sampai mimpi jadi arwah ketika stop baca di bab kedua. Buku ini terinspirasi dari kisah nyata yang berdarah-darah juga di Gwangju, Korsel, pada tahun 1980.

Terakhir, yang nggak seberat tiga buku sebelumnya tapi juga mengangkat isu sensitif mengenai peran wanita, status sosial, dan rasisme: “Little Fires Everywhere”. Penulisnya, Celeste Ng, kurasa berhasil menuturkan kisah dari sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda generasi, kelas sosial, dan—ehem—warna kulit. Nope, bukan tentang orang kulit hitam, melainkan perjuangan keadilan buat seorang wanita etnis Tiongkok yang terancam kehilangan hak asuh atas anaknya.

  1. Nonfiksi

Aku sedikit sekali membaca nonfiksi tahun ini, hiks. Tapi lumayan, yang kubaca pertama adalah buku lokal berjudul “Sieg, Heil!” tentang perjuangan Hitler dalam meraih posisi paling penting dalam kariernya, seorang führer. Jadi, teman-teman, Hitler itu adalah penguasa sah di Jerman dan mendapatkan jabatannya dengan cara baik-baik, bukan dengan cara barbar.

Berikutnya, bacaanku yang mungkin paling mantap tahun ini, “Jenghis Khan” karya John Man. Kebanyakan isi buku ini adalah tentang perjalanan si penulis dalam menelusuri jejak-jejak peninggalan kerajaan Mongolia di abad 13 itu, plus usahanya mencari makam Jenghis Khan yang sesungguhnya.

Lalu ada “Money” karya Harry Choron, yang berisi kumpulan trivia tentang alat-tukar-dalam-perekonomian-spesies-Homo-sapiens a.k.a duit. Buku yang tebal dan berat tapi memuat daftar tahukah-kamu? yang asyik ini lebih enak dijadikan semacam yellow pages yang dibaca ketika perlu saja, misalnya ketika sedang riset buat tulisan.

  1. Thriller

To be honest, thriller yang kubaca tahun ini hampir semuanya cemen, bahkan beberapa di antaranya DNF di bab kedua sampai nggak perlu dimasukkan ke sini. Thriller pertama yang kubaca adalah “The Dry” yang ber-setting di Australia pada musim kemarau dan bikin misuh-misuh karena sama sekali nggak menarik (efek membacanya waktu cuaca terik juga). Biasanya aku tergoda sama cerita whodunnit, tapi khusus buku ini, aku terseok-seok berjuang menamatkannya demi nggak dibilang penggemar whodunnit gadungan.

Next, ada “Katarsis” karya Anastasia Aemilia, psychological thriller yang bikin ngilu dengan narasi mulus lancar kayak trek balap. Ini mendingan, walaupun cerita ini tamat dengan meninggalkan lubang di dalam hati (layaknya lagu Letto) yang tak tertambalkan (bah, pigilah kau sana ke tukang tambal ban).

Lalu ada “Corpora Aliena”, kumcer karya Triskaidekaman yang memadukan medical thriller dan sci-fi dengan bumbu cerita domestik, I mean rumah tangga. Ide-ide gila di setiap cerpen bikinku megap-megap dan menimbulkan trauma. I’d rather read something softer and sweeter from now on.

Aku juga membuat keputusan bodoh dengan membaca “Tewasnya Gagak Hitam”, yang begitu meh sampai-sampai aku no comment saja. Sampai di sini aku khawatir jangan-jangan thriller dan keturunannya sudah bukan makananku lagi. Mungkin memang iya.

Tapi aku puas waktu baca “Magpie Murders” karena teknik bercerita yang canggih dan teka-teki yang cerdik. Ada cerita dalam cerita, ada penulis cerita pembunuhan yang terbunuh, ada kisah whodunnit yang cemerlang pada sebuah fiksi sejarah yang legit.

  1. Middle Grade

Aku mulai menggandrungi middle grade sejak baca bukunya Maryrose Wood, dan bertekad membaca lebih banyak lagi tahun depan. Buku middle grade pertama yang kubaca adalah buku incaranku sejak lama di Goodreads: “The Aviary”. Tentang burung-burung eksotis yang bisa berkomunikasi dengan manusia. Tentang pesulap. Tentang tragedi kelam yang terkubur bersama kematian. Aura misteriusnya engaging sekaliii….

Buku kedua, yang unyu-unyu dan tanpa aura misterius, adalah “The Goldfish Boy”. Tentang seorang anak OCD kebersihan yang terpaksa keluar dari zona nyamannya untuk mengungkap kasus penculikan balita tetangganya. Dan penyelesaian teka-tekinya bagus sekali; sebuah cerita whodunnit yang autentik dengan karakter protagonis yang berkembang.

Aku nggak tahu harus dimasukkan ke mana buku yang berikutnya ini. “Winnie-The-Pooh”. Mungkin seharusnya buku dongeng anak-anak, ya? Tapi nggak apa-apalah masuk middle grade, daripada ngebanyakin tag. Ini buku yang lucu sekaligus menghangatkan hati. Kusudah berniat membacakannya pada anakku setelah dia bisa duduk tenang menyimakku.

  1. Teenlit

Tahun ini kuhanya membaca sedikit teenlit, bahkan dua di antaranya nggak benar-benar berlabel teenlit. Yang beneran berlabel teenlit dan masih produk GWP (juara harapan 1 GWP batch 3), adalah “Caramellove Recipe”. Bercerita tentang Karmel yang mengikuti kompetisi memasak remaja, macam Masterchef Junior gitu, dan berpasangan dengan Satria, kawan akrabnya dari zaman bocah. Namun, ketika mereka sudah lolos seleksi, Satrianya malah sakit dan Karmel terpaksa cari partner baru, dan dapatlah si Sadam, cowok guanteng pinter masak tapi punya sejarah nggak sedap sama Karmel, wuakakak. Premis yang kuat dan alur cerita yang gemesin bikinku betah banget baca sampai end. Tapi ending-nya gantung setengah mati dan aku masih dendam sampai sekarang.

Terus ada “A Hole In The Head” karangan Annisa Ihsani yang misteri dan pemecahannya oke banget. Deskripsi suasana alam di pegunungan Swiss-nya juga sangat memanjakan imajinasi. Dan nggak puas dengan satu buku, aku pun baca buku Annisa Ihsani lainnya, “Teka-Teki Terakhir”. Siapa tahu ketemu kisah misteri yang sama-sama badass. Tapi, err… aku langsung kejang-kejang karena overdosis matematika di sini. Oke, aku tetap suka ceritanya, minus matematikanya.

  1. Young Adult

Alright, sekarang kita ke kategori yang paling banyak kubaca tahun ini *drum roll*. Yak, apalagi kalau bukan young adult, yay! Tepuk tangan yang meriah, pemirsa.

Heh, pemborosan kata. Oke, langsung aja. Young adult terjemahan yang berhasil kutamatkan tahun ini adalah “All The Bright Places” yang memicu kekalutan mental dan “One of Us Is Lying” yang diceritakan dari sudut pandang empat tokoh. OOUIL berhasil bikinku melongo dengan penyelesaian akhirnya. Character development-nya terasa banget dan aku paling suka sama tokoh Addy. Kalau untuk ATBP, karena terlalu depressing dan bikin mbrebes di banyak bagian, skip ajalah. Pokoknya aku suka, tapi nggak mau baca lagi.

Sisanya, aku baca young adult lokal dong. Ada beberapa produk GWP di sini. Misalnya, “Hujan Daun-Daun”, yang merupakan jebolan GWP generasi awal. Buku ini ditulis oleh tiga orang, dan aku takjub sama konsistensi penokohan dan pace ceritanya. Nggak mudah lho, kolaborasi menulis itu. Apalagi keroyokan bertiga.

“Seventeen Once Again” dan “A Sweet Mistake” adalah juara 2 dan 3 GWP batch 3. “Seventeen Once Again” bercerita tentang Brianna yang mengalami amnesia dan hal terakhir yang ingat adalah masa-masa SMA-nya, ketika masih 17 tahun. Maka dari itu, meski umurnya udah 24, dia pun dimasukkan lagi ke SMA. Kalau “A Sweet Mistake” lebih parah kocaknya. Gara-gara ingin menerima tantangan dari teman-temannya, Rey pun dinikahkan paksa dengan tetangganya dari kecil, Liona. Rasanya tuh gemes gimanaaa gitu baca cerita nikah-nikahan gini, walaupun wattpadish sekali.

Produk GWP lain dengan tema unik lainnya adalah ”Breaking Point” karya Pretty Angelia, yang bercerita tentang empat remaja dalam perjuangan mereka mengejar kelulusan lewat Paket C. Selain kaya pengetahuan, penokohannya kuat, perkembangan karakternya terasa sekali, dan ending-nya bikin hatiku berdarah.

Karena sudah jatuh cinta sama buku “Persona” yang kubaca tahun lalu, tahun ini kuwajibkan baca buku lain karangan Fakhrisina Amalia. Kali ini “All You Need is Love”. Waaah aku tambah jatuh cinta karena setting-nya di tempat favoritku, Skotlandia. Buku ini bahkan menjadikan mitos Brigadoon—sebuah desa yang kabarnya hanya muncul 100 tahun sekali—sebagai salah satu elemen penting dalam plot. Pokoknya manis dan magical! Mana tokohnya ganteng-ganteng lagi—ups.

Lalu ada “Welcome Home, Rain” yang berkisah tentang the young rising star yang mendadak kena skandal dan kariernya pun lenyap ditelan bumi. Konfliknya penting untuk diikuti, sayangnya aku kurang cocok dengan gaya narasinya. Aku juga baca “Posesif”, novelisasi dari film berjudul sama yang banyak dapet penghargaan. Ceritanya tentang toxic relationship yang bikin bulu kuduk berdiri, apalagi membayangkan ketika Adipati Dolken… err… gitulah. Cabang olahraga lompat indah di buku ini juga nggak umum dan nggak cuma jadi tempelan cerita. Kemudian, masih senapas dengan dua buku ini, ada “A Untuk Amanda” yang juga bersinggungan dengan tema mental health. “A Untuk Amanda” ini karya Annisa Ihsani yang paling cerebral, narasinya padat berisi dan memuat banyak isu penting, dari ilmu kosmos sampai feminisme.

Young adult berbau misteri tapi punya lokal dan ada taste jejepangan? “Jakarta Sebelum Pagi”. Karya Mbak Ziggy Bernamaeksotis seperti menjadi jaminan cerita yang lucu, narasi yang lincah, dan karakter-karakter unik. Cerita yang ini nggak bikin banjir air mata kayak “Di Tanah Lada”, tapi risetnya kaya dan jalinan misterinya cadas. Iya, INI ROMANCE MISTERI YANG UNYU BANGET! Aku mau baca lagi tahun depan. Yay!

Dua buku lagi, meskipun nggak berlabel young adult, kumasukkan saja ke sini karena emang cocoknya dibaca anak seumuranku. Dua-duanya karya Prisca Primasari. Yang satu “Lovely Heist”, kelanjutan dari “Love Theft” yang bercerita tentang geng pencuri tamvan—uhuk. Tapi di “Lovely Heist” konfliknya lebih panjang dan kelam, melibatkan mental illness juga. Hei, kayaknya aku kebanyakan baca yang bertema mental illness tahun ini. Tahun depan aku cari bacaan yang manis-manis aja kayak “Evergreen”, yang nuansa jejepangannya sangat kental. Mulai dari latar tempat, karakter, interaksi antar karakter, sampai gaya bercerita. “Evergreen” benar-benar manis dan dingin kayak es krim yang dijual di kedai es krim itu. Sayang sekali font-nya keriting-keriting dan bikin minus mataku nambah. Eh, karena ada Alzheimer di buku ini, bukankah itu juga mental illness, ya? Aaaaargh….

  1. Asian Literature

Yatta! Kategori terakhir adalah asian literature, karena aku ngebet sama beberapa karya penulis Asia. Sebut saja Kotenbu Series karangan Yonezawa Honobu ini, “Hyouka” dan “Credit Roll of the Fool”. Sebenarnya tertarik baca karena sudah nonton anime-nya duluan sih, tapi ternyata light novel-nya juga seru untuk diikuti.

Terakhir, aku juga baca webtoon Korea yang sudah dibukukan, “Sometoon”. Ini tipe-tipe webtoon yang aku betah bacanya karena ceritanya manis, babnya pendek-pendek dan saling lepas, jadi nggak harus ngikutin plot besar. Sekarang aku sudah nggak tahan lagi baca serial yang berplot rumit.

Jadi, itulah ke-40 bacaanku tahun ini. Aku belum punya rencana baca apa-apa tahun depan, pokoknya ikut ke mana hatiku melaju saja. Mau ke iPusnas, tokbuk online, atau ke toko buku fisik, entahlah. So, how about you? What kind of books have you read this year?

Iklan

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s