My Social Media Problem

Sejak akhir tahun lalu, aku memutuskan untuk mencopot aplikasi Instagram dari ponselku.

Entah apakah ini akan berlaku selamanya atau hanya sampai aku kembali siap, aku tidak tahu. Aku anaknya impulsif dan labil. Kalau kata orang Jawa itu, isuk tempe sore dele. Aku bisa menarik ucapan monumentalku hanya beberapa menit kemudian karena aku sering memutuskan sesuatu ketika sedang marah. Dan marahku nggak pernah lama.

Mungkin, tahun ini aku hanya akan berfokus mengendalikan amarahku supaya tidak tumpah di media sosial. Mungkin tidak, karena aku nggak konsisten. Aku punya satu sweatshirt favorit dengan tulisan besar di bagian depan: BE CONSISTANT, karena itu mengingatkan pada kelemahan terbesarku, tapi juga percuma karena toh aku tidak bisa membacanya saat sedang memakainya. Haruskah aku menggantungnya di ruang tamu?

Oke, kembali ke soal keputusan untuk mencopot medsos terpentingku selama setahun terakhir. Sebelumnya aku nongkrong 24/7 di Twitter, karena aku kenal banyak aspiring writer yang senasib lewat Twitter. Mereka membagikan link cerita mereka di sana. Mereka membagikan momen penting dan pikiran-pikiran kritis mereka di sana. Sampai aku merasa membaca opini di medsos sudah tidak relevan lagi dengan kehidupanku dan aku pun mencopot aplikasi Twitter sejak… dua tahun yang lalu. Baru-baru ini aku mencoba menyapa lagi teman-teman lama di Twitter dan memasang versi lite untuk mendapatkan pembaruan dari mereka, tapi… aku merasa itu nggak ada gunanya. Aku nggak lagi ketergantungan sama twit orang atau reply-an orang terhadap twitku. Aku bahkan sudah mematikan notifikasi pengikut baru sejak tiga tahun yang lalu. Dan, toh, itu nggak berdampak apa-apa pada kehidupan nyataku.

Becermin dari keberhasilanku lepas dari candu Twitter, aku bertanya-tanya apakah itu akan berlaku sama dengan Instagram. Masalahnya, ketika aku membuat keputusan penting ini, aku sudah menerbitkan sebuah novel dan (bisa dibilang) penggemarku terkonsentrasi di Instagram, bukan Twitter. Jika aku tidak melihat-lihat Instagram dalam sehari, bukankah aku akan melewatkan instastory seseorang yang mungkin sedang memamerkan bukuku yang baru dibelinya? Jika aku tidak menginstall Instagram dan hanya mengintip lewat web, bukankah aku tidak bisa menerima mention-mention lewat instastory itu?

Sejujurnya, aku agak gelisah dengan keputusanku yang ini. Apakah ini artinya aku memunggungi orang-orang yang tak pernah kutemui di dunia nyata tapi cukup peduli untuk mempromosikan karyaku? Karena banyak pembaca buku sekarang lebih senang menuliskan ulasan mereka di Instagram alih-alih di blog. Tak hanya membagikan opini, mereka juga ingin memamerkan hasil foto mereka yang estetis dan tentunya bernilai jual. Instagram, jika dilihat dari sudut pandang seorang aspiring writer yang haus penggemar, adalah ladang gembur untuk mengiklankan karyanya.

Dan aku, yang popularitasnya masih sebesar taoge, sok-sokan meninggalkan media sosial yang berpotensi membesarkan namanya?

Kembali ke paragraf kedua dari celotehan yang tidak jelas ujung-pangkalnya ini. Mungkin, aku akan menginstallnya kembali saat sudah siap. Siap menerima kenyataan bahwa media sosial adalah tempat yang dipenuhi orang-orang menyilaukan dan sebagai bintang kerdil, aku harus memasang kacamata khusus agar mataku tidak rusak (mataku sudah rusak secara harfiah sejak punya gadget). Siap menerima kenyataan bahwa sebagian orang di luar sana memiliki opini berseberangan denganku (nggak, ini nggak ada kaitannya sama pemilu). Siap menerima kenyataan bahwa sekeras apa pun aku mencoba mengepaskan diri, aku tidak akan pernah cocok di lingkungan mana pun, termasuk di medsos dan komunitas menulis yang kukira merupakan kegiatan favoritku.

Kukira.

Bukankah itu plot twist yang mengerikan? Aku mengira aku bisa, rupanya tidak. Aku mengira aku cukup kuat, ternyata tidak. Aku mengira aku cuma jenuh, ternyata berkepanjangan. Semua keputusan yang kuambil di kehidupan lebih awal ternyata didasarkan pada kata kukira. Pada asumsi yang dibangun di atas ego, bukannya fakta. Itulah sebabnya, pada suatu titik, aku tersesat jauh, karena kukira aku sudah mengambil jalan yang benar.

Memikirkan ini sesungguhnya membuatku semakin tertekan. Inilah salah satu alasan mengapa aku tidak kuat lagi melihat postingan orang di medsos. Orang-orang sepertinya sudah selesai dengan perjuangan mencari jati diri dan bisa fokus pada kesuksesannya. Orang-orang tahu belokan mana yang harus diambil sehingga tidak tersesat. Orang-orang berteman dan akrab dengan siapa saja karena tidak punya masalah dengan perbedaan pendapat.

Sementara aku? Aku tidak bisa. Perbedaan pendapat membuatku terasing. Komunitas-komunitas membuatku paranoid. Opini-opini tajam yang diamini banyak kalangan membuatku ragu dengan persepsi pribadi. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Separuh diriku sadar bahwa cara berpikir ini masih primitif, tapi itu artinya aku memojokkan diriku sendiri. Lalu siapa yang akan berpihak padaku jika aku bahkan dikucilkan diri sendiri?

Jika celotehan ini diperas ke dalam satu kalimat, bunyinya akan begini: I lost myself in social medias. Dan aku belum punya solusinya selain tombol uninstall, karena aku merasa tersesat, bingung, dan kalut. Meskipun aku terus mengingatkan diri bahwa aku masih punya teman-teman baik di sana, bahwa ketakutanku tidak beralasan, aku akan kembali ke pemikiran bahwa ini semua cuma delusi yang mengakar pada mantra kukira. Kukira dunia ini baik. Kukira ini akan berbeda dari sebelumnya. Kukira kesulitan ini hanya muncul dari ketidakpercayaan diriku. Kukira aku sudah cukup dewasa. Kukira, kukira, kukira.

Jadi, untuk sementara waktu, aku belum mau menginstall aplikasi khusus untuk medsos. Aku membuka Twitter lewat web saja, dan tidak usah scrolling timeline karena semakin banyak thread yang tampaknya bermanfaat tapi di pandanganku justru beracun. Goodreads juga lewat web saja. Facebook? Nehi. Instagram? Skip. Selain bagus untuk terapi menghilangkan kecanduan, itu juga bagus untuk menghemat kuota dan space penyimpanan ponselku.

Iklan

2 tanggapan untuk “My Social Media Problem

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s