[Resensi Buku] Heart of Darkness

Aku menemukan buku ini ketika sedang mempelajari arketipe-arketipe tokoh utama dalam cerita. Arketipenya didasarkan pada dewa-dewa dalam mitologi Yunani, dan yang paling kusukai adalah Hades. Hades digambarkan sebagai orang yang berpemikiran dalam, kadang-kadang genius, lack of physical strength, dan sangat senang menyendiri.

Dalam trait negatif, ia akan menjadi si antisosial yang menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain. Pada buku teks yang kupelajari itu, disebutkan contoh karakter dalam literatur yang memiliki arketipe Hades ini adalah dr. Jekyll/ Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson, serta Kurtz, tokoh antagonis dalam novel Heart of Darkness ini.

Oke, setelah menjelaskan juntrunganku membaca novel ini, sekarang aku akan membahas isi ceritanya.

Buku ini hanya dibagi menjadi tiga bab, karena memang cukup tipis dan (jika saja bahasa Inggrisnya pakai versi simplified seperti Wikipedia) bisa dibaca dalam sekali duduk. Ada versi terjemahan Indonesianya, tapi aku lupa terbitan mana dan tampaknya sudah lumayan lawas. Aku sendiri beli yang terbitan Penguin Classics. Motif tengkorak tribal di sampulnya unyu.

Cerita dibuka dengan penggambaran suasana senja di sungai Thames dari sebuah kapal. Di sini kita berkenalan dengan si empunya cerita, Marlow, yang mengisahkan perjalanannya ke Afrika di masa lalu. Di Afrika, ia hendak bekerja pada pebisnis gading. Namun, sebelum bertemu bosnya, Mr. Kurtz, ia sudah terlebih dahulu menyaksikan perbudakan dan penyiksaan yang kejam oleh orang-orang kulit putih terhadap orang-orang lokal yang berkulit hitam. Ia juga mengalami teror penolakan dari suku asli ketika berlayar melintasi Sungai Congo demi bisa bertemu Mr. Kurtz. Di sepanjang perjalanannya, dia sudah banyak mendengar desas-desus tentang seperti apa calon majikannya ini. Dikatakan bahwa dia memiliki banyak keahlian bagaikan seorang prodigy sewaktu tinggal di Eropa, bahwa sekarang dialah raja bisnis gading di sini, bagaimana reputasinya selama ini, dan bagaimana kawan dan lawannya sama-sama segan padanya.

Nah, di bagian ketiga, kita baru benar-benar bertemu si Kurtz. Bagiku, ini adalah salah satu kekuatan cerita ini. Sosok Kurtz di sepanjang dua per tiga buku hanya bagaikan hantu atau makhluk kriptid yang entah sungguhan ada atau tidak. Ada yang bilang dia sudah mati, ada yang bilang dia sedang sakit keras dan menunggu ajal. Yang mencengangkan, ternyata dia sudah bersembunyi di kegelapan belantara Afrika dan menjadikan orang-orang dari suku asli sebagai… hmm… Dora Milaje-nya? Hahaha. Mereka mematuhi perintah Kurtz bahkan memujanya. Di sana, pada pertemuan itu, Marlow baru menyadari segala kekuatan dan kebobrokan bosnya.

Aku sangat suka atmosfer kelamnya di sepanjang cerita. Dikatakan bahwa ini sebenarnya adalah hasil pengalaman Joseph Conrad sendiri ketika merantau ke Afrika, dan terlepas dari kontroversinya, ia mencoba menggambarkan kekejaman dalam bisnis gading pada waktu itu.

Iklan

3 tanggapan untuk “[Resensi Buku] Heart of Darkness

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s