[Resensi Buku] Palagan Nusantara

Overview

Judul: Palagan Nusantara
Penulis: Nellaneva
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978 6020 490427
Genre: Sci-fi

Tidak ada yang tahu alasan kedua orangtua Kat ditembak mati pada Minggu pagi itu. Kat pun dibuat tak berdaya oleh si penembak sebelum adiknya, Aruni, dibawa pergi.

Kat yakin adiknya tidak ikut dibunuh. Setelah keluar dari rumah sakit, ia mencari adiknya dengan bantuan Garda, robot kucing yang serbatahu; Baskara, si ahli mekanik; dan Mada, si penyandang lengan robotik.

Namun, pencarian Aruni tidaklah mudah. Terlalu banyak kejutan yang ditemui dan jebakan yang harus dilewati untuk kedua adik kakak itu bisa bersama lagi. Tidak hanya itu, perjalanan mereka rupanya mengarah pada hal yang lebih besar lagi, yakni penyelamatan Nusantara.

Pembuka

Saya tahu nama Nellaneva sejak saya masih menjadi penulis amatiran (sampai sekarang tetap amatiran) di Storial. Tapi saat itu saya belum tertarik membaca karya-karyanya karena saya kira beliau spesialis cerita fantasi. Dulu saya kurang suka fantasi. Saya sok-sokan menyukai thriller, misteri, dan cerita berbau gore. Sekarang? Saya cuma betah baca romance unyu-unyu atau yang ada robot kucingnya seperti buku ini.

Dari blurb-nya, kita menebak cerita ini kental akan konspirasi, layaknya film Bourne. Kalau diteliti sekali lagi dari blurb, cerita ini juga menggambarkan modernisasi next level, di mana robot ultracerdas sudah lumrah di jalanan dan para penyandang disabilitas memperoleh prostesis canggih untuk menggantikan anggota tubuh yang lumpuh/hilang. Saat membaca buku ini, kita akan mendapati semua kecanggihan itu bukan sekadar tempelan pada setting modern, melainkan sesuatu yang ditanam bersama plot. Banyak detail lebih menarik yang ingin saya bahas di sini, karena nggak bakal cukup dimuat di caption Instagram.

Plot

Adegan menegangkan sudah ada sejak bab pertama. Kat terbangun di rumah sakit dengan luka tembak. Orangtuanya tewas. Adiknya hilang. Pada bab yang sama, penulis menggambarkan seperti apa keluarga Kat sebelum luluh lantak. Harmonis. Tenang, damai. Tipe keluarga yang tidak memiliki musuh. Tentu saja ini kontras dengan cara kematian mereka, sehingga membangkitkan murka Kat. Konflik telah dimulai.

Bab-bab berikutnya, tokoh-tokoh penting lain diperkenalkan satu per satu. Watak mereka digambarkan lewat dialog dan aksi. Terasa hidup, bahkan aku bisa mendengar seperti apa suara bariton Garda. Bayangkan saja anjing-anjing di film “Up“, huahahaha.

*Dilempar dari puncak air terjun*

Deskripsi aksinya padat dan fokus, tidak membuat saya ketiduran di tengah adegan tembak-tembakan. Cuma saja, ketika tiba di bagian Kat mengetahui bahwa (SPOILER ALERT) Aiberk ternyata robot, senjata terampuh yang terpikir oleh saya adalah electromagnetic pulse, yang bisa merusak alat-alat listrik tanpa kemungkinan diperbaiki. Tapi mungkin penulis mempertimbangkan “Bendungan Lautan Api” sebagai puncak dramatisnya, sehingga dipilihlah flamethrower alias senjata napas naga.

Yang paling nyesek bagi saya adalah plot twist-nya. Itu benar-benar plot twist yang mantap. BASKARAAA. NANDEWHYYY? 😭😭😭

*Efek obat sudah habis*

*Minum obat lagi*

*Lanjut*

Adegan klimaksnya ya standar film-film action lah. Musuh terjahat yang harus mereka hadapi adalah teman mereka sendiri. Mau nggak mau teringat Naruto vs Sasuke (anak kelahiran kapan kamu, Git?). Tapi entah kenapa saya tetap berdebar ketika Kat mendengar berita bahwa sang musuh sedang otw ke kotanya untuk pertempuran terakhir. Epik, romantis, tragis. Setelah membaca kilasan masa lalunya Baskara, lalu mendapati lengan palsunya Mada nggak bisa dilepas, saya sempat berpikir OMG Baskara pasti cinta banget sama Mada karena nggak mau Mada jadi lemah tanpa lengan robot itu. Eh tapi ternyata… AAAAA NANDEWHYYY BASKARAAA…

*Diiket di tempat tidur*

*Disuntik obat penenang dosis kuat*

Yang saya sukai dari laga puncak ini adalah tokoh perempuannya tidak hanya menjadi “pendamping” tokoh utama laki-laki, tapi juga merampungkan konflik miliknya sendiri. Emosinya memang langsung berantakan setelah itu, tapi dia punya cara sendiri untuk berdamai dengan semuanya–tanpa bantuan laki-laki.

Kemudian tentang epilog. Dua belahan otak saya bertikai dalam menilai epilognya. Yang sebelah kanan berkata itu adalah kisah romansa seorang anti-hero yang bangkit dari koma untuk merebut kembali sang kekasih dan menjadi villain yang sesungguhnya. Sementara otak sebelah kiri menganggap semua usaha Kat sia-sia dan kembali ke titik nol, saat segala yang berharga dalam hidupnya dirampas. Jadi, akankah ada buku kedua berjudul “Mari Bung, Rebut Kembali”?

*Nyanyi Halo-Halo Bandung*

Yang saya suka, hal-hal yang sudah diperkenalkan di awal menjadi berguna di babak penyelesaian, jadi tidak ada elemen tempelan yang sia-sia.

Setting

Palagan Nusantara mengambil tempat di Nusantara versi alternated universe pada tahun 2190. Dimensinya berbeda dengan dunia kita.

Jadi ceritanya, di buku ini Nusantara tidak pernah terbebas dari kolonialisasi, sehingga kita tunduk pada kekuasaan ratu Holland. Pimpinan tertinggi di Nusantara sendiri adalah seorang perdana menteri. Parlemen pendukungnya digambarkan sewenang-wenang tingkat iblis, yang anehnya kok sama saja dengan nusantara versi dunia kita *ketawa getir*. Jika Nusantara tidak terbebas dari Holland, itu artinya pada dimensi itu tidak ada pendudukan Jepang, yang mungkin berarti tidak ada Perang Dunia II, yang juga mungkin berarti TIDAK ADA HITLER.

Duh, ternyata ketiadaan Hitler memberi efek menyengsarakan bagi bangsa kita. Hail, Führer!

*Ditangkep*

*Dibakar hidup-hidup*

Entah apa ideologi yang diterapkan di Nusantara dimensi ini. Mirip Korea Utara tentu saja, minus pemimpinnya yang chubby. Yang ada, Vadim van Ret… Ret… Retriever? Retburger? adalah jenderal bengis yang membunuh orang lain untuk mempercepat waktu kematiannya saja.

Atmosfernya mirip cerita-cerita punk. Di mana teknologi canggih bertabrakan dengan kemelaratan masyarakatnya.

Punk. Like your favorite 2000s rock bands.

Pada satu bagian ditunjukkan novel Max Havelaar, dan beberapa kali ditunjukkan bahwa robot-robot (yeah, robot!) ciptaan Hoven terinspirasi dari makhluk mitologi nusantara. Nama-nama pangkat di dinas kepolisian sama dengan pangkat di dinas militer, dan ini akurat di masa pra-reformasi dimensi kita. Teknologi seperti senjata api, flamethrower, bom, ponsel hingga internet ada, tapi khusus dua yang terakhir hanya ditemukan di ibu kota Nusantara, Batavia. Teknologi telepatik antarrobot tidak dijelaskan apakah menggunakan internet, wi-fi direct, NFC, atau bluetooth.

*Disumpal Nokia N-Gage*

Dan truknya belum pakai power window, pemirsa. Saya ragu apakah AC pernah ditemukan di dimensi itu. Mungkin karena Bendungan dingin jadi nggak pakai AC.

(Ya tapi kan Git, terserah Kaka Author-nya. Mau masukin hiu putih terbang juga boleh.)

Karakter

Saya suka nama-nama tokoh di sini. Terniat, tapi juga nggak lebay kayak Vhallencchy gitu. Nama-namanya malah kayak orang-orang kerajaan zaman dulu. Kartaraja Prabangkara. Baskarasatya, Leksamada. Sampai tokoh bajingan macam Jayagiri aja keren namanya hih.

Kat

Tokoh utama kita. Seorang pendongeng. Lelaki yang lemah lembut dan berperasaan halus. Tipikal tokoh utama anime yang setiap saat berkata “Su-sumimasen” dan “ch-chotto!”

Hampir nggak berguna di sepanjang cerita, terutama ketika digigit Aiberk. Lalu tiba-tiba di akhir cerita jadi pria berdada bidang nan ahli mekanika.

Mada

Cewek tsundere yang hobinya mendecih. Punya tangan dengan rangka eksoskekssksksk halah payah banget. Leher saya pasti terpuntir tiap baca kata ini. Punya masalah dengan setiap laki-laki yang dikenalnya, entah itu kakaknya, ayah tirinya, Baskara…. AAAARGH BASKARAAA.

Baskara

The INTJ guy. Highly intelligent, cool-minded, multitalented. Still got mixed (and crumbled) feeling about this guy. Dikatakan bahwa ia bisa begitu tenang karena air matanya sudah habis di masa lalu. Entah apa yang dirasakannya saat dipaksa menjadi separuh bionic.

Biarlah derajat kekerenannya seberengsek setinggi itu. INTJ ya, INTJ aja.

Garda

Doraemon dalam tubuh Garfield. Robot kucing berintuisi tinggi yang pekerjaannya adalah memberi contekan informasi. Cerewet di saat nggak perlu, dead silent when being needed. Mantranya adalah “Buktikan sendiri kalau tidak percaya”. Perannya dalam tim Kat kurang lebih sebagai dukun yang punya mata batin untuk melihat masa depan dan tembus ke hati dan pikiran manusia. Saya bertanya-tanya apakah kecerdasan Garda memungkinkannya mengintip ke dimensi lain atau itu murni hasil proses berpikirnya. Barangkali dalam algoritmanya tercantum rumusan chaos theory atau semacamnya.

Aruni

The missing girl. Mulanya saya nggak terima kenapa Aruni harus dibuat buta, tapi fakta yang mengerikan muncul bersama plot twist. Kebutaan membuat indera pendengarannya menajam, dan dia ingat suara orang yang menculiknya.

Anjiiiir bagian itu.

Vadim van Reticulatedpython

Bukan nama sebenarnya. Jenderal terbengis di Nusantara. Yah, ini juga sama dengan kondisi dimensi kita, di mana negeri kita tercinta dijajah oleh para petingginya sendiri. Ingin memusnahkan Nusantara agar bisa mendirikan peradaban baru yang lebih tertata di atas puing-puing lama.

Elise Jerusha dan Aryawiguna

Wait. Kayaknya ada nama yang salah.

*Menunggu tsukkomi*

Ini adalah dua pahlawan syahid kita, dan kemungkinan besar, sepasang kekasih dalam cinta yang terlarang.

(Makin ke bawah resensinya makin bikin mual, sumpah!)

Oke, oke, saya ngopi dulu biar pikirannya lurus lagi.

Estetika

Palagan Nusantara is not only written, but crafted handsomely. Kaya imajinasi tapi lugas dalam penyampaian. Rasa katanya bagus, walaupun saya heran mengapa kata tertentu seperti mendecih harus terus-menerus dimiringkan dan Aiberk serta Kurir harus memakai huruf besar. Cuma ada beberapa typo yang saya temui, seperti lupanya pemakaian huruf kapital untuk nama tempat, dan ada setidaknya dua paragraf yang formatnya kurang pas. Mungkin terlewat saat layouting. Selebihnya, saya suka layout bukunya. Ketebalan huruf dan jarak antarbarisnya bersahabat dengan mata tua saya. Covernya juga epik. Anak saya selalu melolong dan mengeong bergantian tiap lihat cover belakangnya (ada gambar serigala dan kucing di situ).

Kesimpulan

Palagan Nusantara adalah kisah heroik sekelompok remaja dalam menyelamatkan err, yah, Nusantara. Sama seperti sejarah bangsa kita di dimensi ini, bangsa mereka pun bangkit melawan kelaliman penjajah setelah “dikompori” oleh anak muda. Yang artinya, di tangan anak mudalah masa depan bangsa ini digenggam.

Dengan narasi yang hyper-page-turner dan interaksi antartokoh yang bikin greget, Palagan Nusantara adalah buku keren yang menutup tantangan baca Goodreads 2019 saya dengan gemilang, setelah dua buku luar negeri yang mengecewakan. Tahun depan saya bakal stop baca buku fiksi luar negeri. Saya akan fokus mencari buku-buku lokal yang punya rasa seperti Palagan Nusantara saja.

Semoga ini tak hanya menjadi wacana.

Final rating: 8.25/10