[Cerpen] Jakarta Copenhagen

Ini bukan tipikal tempat yang gue senangi. Gue lebih suka ngebut melintasi Øresundbroen menuju Malmö daripada duduk-duduk bengong di Nyhavn.

Di sini, gue cuma bisa ngeliatin kano-kano yang tertambat diam di pinggir kanal serta deretan bangunan warna-warni yang bikin mata sakit. Plus, alih-alih kencan sama bule cantik, gue malah harus mengasuh salah satu keponakan kembar gue, entah Frank atau Luglini, yang tiba-tiba menyodorkan sebuah buku dan meminta gue membacakannya.

Sejauh yang tertulis di cover belakang, buku ini bercerita tentang tiga anak yang dibesarkan serigala.

Lanjutkan membaca “[Cerpen] Jakarta Copenhagen”

Iklan

[Cerpen] Rembulan dan Kota yang Kesepian

486361886

Pria yang memesan kopi hitam di sebelahku bernama Pierre.

“Bukan orang Prancis, sebenarnya,” dia menambahkan catatan kaki pada namanya, seolah-olah itu adalah merek detergen dengan formula khusus yang perlu penjelasan lebih lanjut.

Lanjutkan membaca “[Cerpen] Rembulan dan Kota yang Kesepian”

The Guy On The Train

Clotilde tahu bahwa melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan korset ketat itu sedikit menyesakkan. Menarik perhatian orang-orang juga. Tetapi, korset itu baru saja menyelamatkan hidupnya. Pada pertarungan melawan mafia lokal di Vladivostok, lebih jelasnya.

Jadi sebagai rasa terima kasih pada kain keras yang ditanami butiran berlian itu—Clotilde mengencangkan tali pengikat di punggungnya dengan bantuan cermin, lalu melapisinya dengan jaket kulit hitam yang tak kalah mencolok.

Lanjutkan membaca “The Guy On The Train”

Maskapai Awan

Dengung kasar melintas di langit biru, di antara kepulan awan yang kami tatap dari teras rumah. Aku dan adik laki-lakiku sedang malas melakukan apapun di hari seterik ini, selain menerawang masa depan yang menggantung di atap Bumi.

“Itu Douglas,” adikku berkata. Dia mau jadi aviator seperti paman kami, tapi perjalanan ke sana masih jauh. Perjalanan ke koordinat Paman sekarang masih jauh.

Lanjutkan membaca “Maskapai Awan”

[FF] Cinta.

image

Hawaii, tepi laut, ketika hanya tersisa segaris cahaya jingga di kaki langit,

Sasuke: Katakan, Sakura, apa yang kau sukai dari pantai? [menggenggam tangan Sakura]

Sakura: Mataharinya.

***

Gunung Bromo, kala fajar hendak menyingsing,

Sasuke: Lalu, Sakura, apa yang kau sukai dari gunung? [mendekap bahu Sakura yang gemetar karena kedinginan]

Sakura: Mataharinya.

Sasuke: ….

***

Washington, DC, pertengahan musim semi, di bawah pohon cherry,

Sasuke: Sakura, bagaimana dengan ini? Apa yang kau sukai dari pemandangan ini? [berjalan di belakang Sakura yang tengadah ke kanopi pohon]

Sakura: Mataharinya.

Sasuke: @!#%&

***

Tepi air terjun Reichenbach, tengah malam, bulan purnama,

Sasuke: Sekarang bagaimana, Sakura? Apa yang kau sukai dari tempat ini? Kau tidak mau bilang kau menyukai mataharinya juga, kan? [menyiapkan kunai di belakang punggungnya]

Sakura: [memandang kosong ke depannya] Mataha—

Sasuke: [bersiap mencekik Sakura] Yang benar saja! Aku sudah mengajakmu berkelana ke seluruh dunia dan kau hanya menyukai matahari! Tidak adakah—

Sakura: [menatap dalam] Sasuke… kau lihat, kan? Ketika malam tidak ada matahari.

Sasuke: [terengah] Lalu kenapa…!

Sakura: [menunjuk Sasuke] Tapi matahariku masih tetap ada. Segelap apapun dunia yang sedang kusinggahi.

Sasuke: [terperanga] Sa-Sakura… [tertunduk malu] baka-baka-baka! [memukul-mukul pundak Sakura]

TAMAT